Rabu, 11 September 2013

West Ham United F.C.

 

West Ham United Football Club adalah sebuah klub sepak bola Inggris yang bermarkas di London. Klub ini memainkan pertandingan kandangnya di Stadion Boleyn Ground (Upton Park) yang berkapasitas 35.016 kursi. Seragam mereka berwarna merah-silver.

Pemain

Skuat utama

Per 4 Juli 2012.[3]
Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional pemain sesuai dengan peraturan FIFA. Pemain dapat saja mempunyai lebih dari satu kewarganegaraan.
No.
Pos. Nama
2 Bendera Selandia Baru DF Winston Reid
3 Bendera Irlandia Utara DF George McCartney
4 Bendera Inggris MF Kevin Nolan (captain)
5 Bendera Inggris DF James Tomkins
7 Bendera Inggris FW Sam Baldock
8 Bendera Inggris FW Nicky Maynard
9 Bendera Inggris FW Carlton Cole
10 Bendera Wales MF Jack Collison
12 Bendera Portugal FW Ricardo Vaz Tê
13 Bendera Republik Irlandia GK Stephen Henderson
14 Bendera Inggris MF Matthew Taylor
16 Bendera Inggris MF Mark Noble (vice-captain)
17 Bendera Republik Irlandia DF Joey O'Brien

No.
Pos. Nama
20 Bendera Pantai Gading DF Guy Demel
23 Bendera Inggris MF Ravel Morrison
27 Bendera Inggris DF Jordan Spence
30 Bendera Perancis FW Frédéric Piquionne
32 Bendera Inggris MF Gary O'Neil
38 Bendera Australia FW Dylan Tombides
43 Bendera Inggris DF Callum Driver
44 Bendera Inggris MF George Moncur
46 Bendera Inggris FW Robert Hall
48 Bendera Inggris DF Daniel Potts

Bendera Finlandia GK Jussi Jääskeläinen

Bendera Senegal MF Mohamed Diamé

Gelar

Referensi

  1. ^ "Stadium information". West Ham United F.C. Diakses 29 April 2010.
  2. ^ "Ownership". Whufc.com. Diakses 14 January 2011.
  3. ^ "2010/11 First-team squad". Diakses 26 August 2011.

Suporter West Ham United F.C.

Suporter West Ham United
Suporter West Ham di luar Upton Park
Bendera kelompok suporter dari New York City berkibar di Stadion Wembley
Suporter West Ham United F.C. adalah pengikut klub sepak bola Inggris yang berasal dari London Barat, West Ham United Football Club, yang didirikan sebagai Ironworks Thames pada tahun 1895. Ada 670.000 suporter yang terdata oleh klub dan lebih dari 250.000 orang menyukai halaman klub di Facebook.[1] Situs resmi klub berada dalam daftar sepuluh besar situs klub sepak bola Inggris yang paling sering dikunjungi oleh orang-orang di Amerika Serikat.[2] Suporter mereka juga terkait dengan elemen hooliganisme sepak bola,[3] dan memiliki rivalitas keras dengan beberapa klub lain, terutama Millwall.

Demografi

Mayoritas suporter West Ham adalah laki-laki.[4]
West Ham adalah satu-satunya klub di borough Newham dan mayoritas orang di borough tersebut mendukung West Ham.[1] Kehadiran rata-rata di Boleyn Ground, kandang mereka, selama enam musim terakhir adalah lebih dari 33.000 orang per musim,[5] dan meskipun terdegradasi sebagai juru kunci Liga Utama Inggris 2010-11, kehadiran di kandang mereka rata-rata 33.426, tertinggi kesebelas dari semua klub Liga Utama.[6] Secara tradisional, penggemar West Ham berasal dari London (di London Timur khususnya), dan home counties, namun penggemar klub ini juga merata di seluruh dunia terutama di Barcelona,[7] Tenerife,[8] Serbia,[9] Australia,,[10] dan Skandinavia yang memiliki lebih dari 800 anggota.[11]

Lagu

Selain lagu sepak bola yang umum digunakan fan-fan di Inggris, suporter West Ham menyanyikan I'm Forever Blowing Bubbles,[12] yang dianggap sebagai lagu resmi klub.[13] Lagu pujian juga telah diciptakan dan dinyanyikan untuk pemain, terutama Paolo Di Canio,[14] Christian Dailly,[15] Bobby Zamora,[16] Frank Lampard[16] Pop Robson dan Luděk Mikloško[17]

Pahlawan dan pengkhianat

Suporter West Ham telah menamai beberapa pemain selama bertahun-tahun sebagai 'favorit penggemar', terutama Paolo Di Canio,[18] Bobby Moore,[19] Julian Dicks[20] dan Carlos Tevez.[21]
Suporter juga metampilkan semangat untuk menyalahkan mantan pemain yang dianggap tidak memedulikan klub, atau merugikan klub. Paul Ince,[22] Frank Lampard,[23] Jermain Defoe,[24] Craig Bellamy[25] dan Nigel Reo-Coker[26] telah mendapat kekerasan verbal dan dimusuhi publik Upton Park. Namun, pemain seperti Joe Cole, Michael Carrick, Rio Ferdinand,[27] Bobby Zamora dan Carlos Tévez[28] menerima tepuk tangan dan bahkan tepuk tangan berdiri untuk menghormati kontribusi mereka bagi klub.

Rivalitas

Rivalitas terlama dan terpanjang suporter West Ham adalah rivalitas dengan fans Millwall,[29] dengan kedua belah pihak menyebut yang lain sebagai pesaing utama mereka.[30]
Persaingan antara Millwall dan West Ham selalu menjadi sebuah pertemuan yang sengit, dari pertemuan pertama - 'pertandingan persahabatan' pada tanggal 23 September 1897, Thames Ironworks yang baru dibentuk (belum dikenal sebagai West Ham) kalah 2-0 - sampai pertemuan terbaru dalam pertandingan Divisi Championship pada bulan Februari 2012.
Pada tanggal 17 September 1906 di sebuah pertandingan Western League, pertemuan yang sangat ganas menyebabkan satu pemain terlempar ke papan iklan logam dan yang lain ditandu keluar setelah mendapat tekel keras. East Ham Echo melaporkan: "Dari sepakan pertama bola, pertandingan ini tampaknya akan penuh masalah, tetapi tensi meledak ketika Dean dan Jarvis bertabrakan (Dua pemain Millwall diusir selama pertandingan). Ini cukup merangsang kegembiraan di antara para penonton. Kerumunan di tepi tertular kegembiraan tersebut, perkelahian bebas terjadi."[31]
Pada tahun 1926, pemogokan umum dimulai oleh para pekerja di East End, yang sebagian besarmerupakan pendukung West Ham, tetapi pekerja galangan kapal di Isle of Dogs, yang dipenuhi fan Millwall, menolak untuk menunjukkan dukungan mereka, memprovokasi kemarahan massa.
Pada tahun 1972, sebuah pertandingan testimonial untuk bek Millwall, Harry Cripps dirusak oleh pertempuran sengit antara dua "firma" klub itu, kelompok hooligan yang berniat melakukan kekerasan.
Millwall dan West Ham United, dipisahkan oleh Sungai Thames, hanya berjarak 5 mil.[32]
Empat tahun kemudian, seorang pendukung Millwall, Ian Pratt, meninggal di Stasiun New Cross[33] setelah jatuh dari kereta api saat berkelahi dengan fans West Ham. Serangkaian selebaran kemudian didistribusikan di pertandingan-pertandingan kandang Milwall, bertuliskan: "Seorang fan West Ham harus mati untuk membalaskan dendamnya".[34]
Pada pertandingan Piala Liga Inggris pada 25 Agustus 2009, bentrokan terjadi antara kedua belah pihak di luar Upton Park. Polisi memperkirakan ratusan penggemar terlibat. Pendukung Millwall, Alan Baker ditikam[35] dan ditinggalkan berjuang untuk bertahan hidup.[36][37] Lapangan permainan diserang tiga kali oleh para pendukung West Ham, menyebabkan laga ditunda.[38] Football Association menyelidiki kedua klub, dan akhirnya West Ham didenda £115.000. Mereka didakwa telah gagal untuk memastikan fans mereka menahan diri dari kekerasan, perilaku mengancam, cabul dan provokatif dan memasuki lapangan permainan. Millwall dibersihkan dari semua tuduhan.[39]
Kekerasan di kalangan penggemar di pertandingan antara kedua klub dapat menjadi begitu keras, dan telah ada permintaan untuk tidak pernah lagi membiarkan permainan antara keduanya dalam kompetisi piala dan bahwa setiap pertandingan liga mendatang dimainkan di balik pintu tertutup.[40]
Pertandingan melawan tim London lainnya, seperti Chelsea dan Tottenham juga dianggapderby dan kekerasan telah terjadi antara penggemar, meskipun persaingan tidak intens seperti antara West Ham dan Millwall.[41][42]

Tradisi

Rumah publik Boleyn di persimpangan Green Street dan Barking Road.
Stadion West Ham terletak di dekat persimpangan Green Street dan Barking Road di Newham. Pada persimpangan itu terdapat rumah publik Boleyn, secara tradisional digunakan oleh fans West Ham pada hari pertandingan. Penggemar timm lawan tidak diinginkan berkunjung dan kekerasan telah terjadi di daerah ini.[43] Karena kedekatannya dengan stadion dan penggunaannya oleh fans West Ham, pub ini telah sering ditutup sebelum dan sesudah permainan melawan klub yang memiliki persaingan dengan West Ham.[44] Suporter West Ham juga secara tradisional menggunakan rumah publik Queens di Green Street dan dekat dengan stasiun Upton Park, dan telah sering menjadi ajang kekerasan yang melibatkan suporter West Ham.[45] Suporter West Ham juga menggunakan Greengate, Wine Bar dan pub Village di Barking Road.[46]

Majalah suporter

Dimulai pada akhir 1980-an, banyak majalah suporter terbit, ditujukan untuk penggemar West Ham. Ini termasuk The Cockney Pride, The EastEnd Connection, The Loyal Supporter, UTD United, The Boleyn Scorcher, Never Mind the Boleyn, Forever Blowing Bubbles, Ultimate Truth, We Ate All the Pies, Fortunes Always Hiding, The Ultimate Dream, On a Mission From God, The Water in Majorca, On the Terraces dan Over Land and Sea. Hanya yang terakhir ini yang masih diterbitkan.[47]

Rasisme, kekerasan dan hooliganisme

Suporter West Ham memiliki tradisi kekerasan dan hooliganisme.[43] Kandang mereka, Boleyn Ground, juga telah menyaksikan rasisme di antara penggemar dan di sini, hooliganisme sepakbola berasal dari para bovver boy pada tahun 1960.[48] Simpatisan Front Nasional telah membagikan selebaran merka di luar Upton Park, terutama setelah peluncuran surat kabar pemuda 'Bulldog' pada tahun 1977, dan telah berhasil menjual memorabilia klub yang membawa slogan dan motif 'NF'.[49]
Tato seorang fan West Ham
Kaus klub dengan slogan mafia
Asal-usul hubungan West Ham dengan kekerasan terorganisir terkait sepak bola dimulai pada tahun 1960 dengan berdirinya The Mob Mile End (dinamai berdasarkan daerah 'keras' di East End, London).[48]
Selama tahun 1970-an dan 1980-an (era utama untuk kekerasan terorganisir terkait sepak bola) West Ham memperoleh ketenaran lebih lanjut untuk tingkat hooliganisme di basis penggemar mereka dan perilaku antagonis terhadap saudara sendiri dan suporter lawan, dan polisi. Selama tahun 1970-an pada khususnya, kelompok rival dari suporter West Ham dari daerah tetangga (kebanyakan dari Barking & Dagenham) sering bertempur satu sama lain selama permainan.
Pada 1980, klub dipaksa memainkan pertandingan Piala Winners melawan Castilla CF di balik pintu tertutup ke stadion kosong setelah suporter mereka merusuh di pertandingan tandang di Bernabeu.[50] Pada tahun 1985, lima penggemar ditikam di feri Selat Inggris ke Prancis setelah pertempuran yang melibatkan penggemar dari West Ham, Manchester United dan Everton.[51] Pada tahun 2006, pada penampilan terakhir mereka di kompetisi Eropa, 20 suporter West Ham dihadapkan ke pengadilan Italia setelah penangkapan mereka setelah berkelahi dengan pendukung tuan rumah di Sisilia, sebelum dan sesudah pertandingan West Ham melawan Palermo di laga tandang Piala UEFA 2006-07. Di kandang, fan West Ham memakai kaus bertuliskan slogan "The Mafia" - merujuk ke Sisilia, rumah Costa Nostra. Hal ini dipandang serius oleh fan Palermo. Enam penggemar West Ham, enam petugas polisi dan lima warga sipil menderita luka ringan dalam sebuah pertempuran di Sisilia. Suporter Palermo melemparkan botol dan kursi di distrik Teatro Massimino di kota tersebut. 500 orang terlibat dalam perkelahian dan polisi diserang. Polisi anti huru-hara membutuhkan lebih dari satu jam untuk menghentikan kekerasan. Seorang saksi mata mengatakan, "Penggemar West Ham berperilaku seperti binatang, berkeliaran di jalanan, botol di tangan, mencari siapa saja untuk melawan".[52] Lebih dari 2.500 suporter West Ham melakukan perjalanan ke Palermo untuk menyaksikan permainan.[53]

Inter City Firm

Aktif di tahun 1970-an, 1980-an dan 1990-an, penggemar West Ham membentuk Inter City Firm ('ICF'), sebuah firma hooligan sepak bola Inggris yang terkait dengan klub. Mereka adalah salah satu yang paling firma hooligan yang paling ditakuti.[54] Nama itu berasal dari penggunaan kereta InterCity untuk laga tandang.[55] ICF adalah salah satu firma yang memelopori gerakan "kasual" pertama, disebut demikian karena mereka menghindari polisi dengan tidak mengenakan pakaian yangberhubungan dengan sepak bola. Kegiatan kekerasan mereka tidak terbatas pada derby lokal saja, mereka bertujuan untuk menimbulkan masalah di setiap pertandingan. Selama 1990-an, dan sampai hari ini, pengawasan yang canggih dan kepolisian, ditambah dengan dukungan dari klub dan tindakan masyarakat, telah mengurangi tingkat kekerasan, meskipun persaingan dengan Millwall, Tottenham Hotspur dan Chelsea tetap ada.

Protes dan serangan lapangan

West Ham penggemar telah mengambil bagian dalam serangan lapangan dan protes terhadap dewan direksi klub dan dirasakan salah urus keuangan klub, setelah penampilan buruk di lapangan atau untuk menunjukkan ketidaksetujuan pada penjualan atau pembelian pemain seperti Lee Bowyer.[56][57][58] Serangan lapangan lain yang terkenal terjadi pada 1990-an terhadap peluncuran The Hammers Bond, sebuah surat utang yang akan memaksa penggemar membeli obligasi sebelum mereka bisa membeli tiket musiman.[57] Pada tahun 1992, demonstrasi pasca-pertandingan digelar, melawan rencana penerapan surat utang tersebut dan direktur baru, Peter Storrie, sebelum pertandingan kandang melawan Wimbledon diikuti oleh serangan lapangan di laga kandang melawan Everton dan Arsenal. Direksi dipengaruhi oleh protes itu dan mengumumkan bahwa pembelian obligasi tidak lagi diperlukan untuk membeli tiket musiman.[59] Dari 19.301 obligasi awalnya tersedia, kurang dari 1000 terjual.[60]

Dalam budaya modern

Film tahun 2005, Green Street Hooligans (jalan di mana Boleyn Ground berdiri) digambarkan seorang mahasiswa Amerika, diperankan oleh Elijah Wood, terlibat dengan sebuah firma fiksi yang berhubungan dengan West Ham, dengan penekanan pada rivalitas dengan Millwall.[61][62] Meskipun mereka awalnya memperbolehkan syuting di dalam stadinon West Ham, direksi West Ham menarik izin mereka setelah mereka sadar akan isi kekerasan dari film tersebut.[62] Hooliganisme di West Ham lagi-lagi disorot dalam Cass, sebuah film 2008, berdasarkan pada kehidupan seorang mantan hooligan yang terkenal, Cass Pennant.[63]

Rabu, 04 September 2013


Kesan Kesan Belajar Multimedia Kemarin






Minggu kemarin sebelum masuk pelajaran mulok multimedia saya disuruh untuk mengerjakan tugas oleh seorang guru multimedia bernama Pak Acep Hendra untuk membuat sebuah blog dan mencari pengertian tentang CMS, besoknya saya membuat blog dan mencari pengertian CMS. Lalu minggu depannya saya dan teman sekelas XI TKJ 3 masuk ruang INFORMATIKA dan saya pun disuruh untuk mengumpulkan tugas pengertian CMS, tapi tidak lama kemudian Pak Acep memeriksa tugas satu per satu. Kemudian Pak Acep marah sambil berbicara "Apa kalian mengerjakan tugas ini terpaksa dan berapa uang yang kalian keluarkan untuk mengerjakan tugas ini ?" . Kami pun takut dan sedikit heran karena Pak Acep menanyakan pertanyaan itu, lalu Pak Acep menanyakan apa pengertian CMS kepada teman sekelaas dan hanya beberapa orang yang bisa menjawab dan itu pun tidak benar. Lalu Pak Acep marah karena ada beberapa teman sekelas yang tugas CMS nya itu dikerjakan bersama sama/tugas nya itu copas dan membanting tugas tugas yang sama ke lantai
Setelah itu Pak Acep menerangkan pengertian dari CMS dan Pak Acep pun menyuruh menggunakan komputer untuk belajar membuat sebuah website dari Joomla ketika Pak Acep sedang menerangkan Pak Acep itu melucu sambil mengajar mungkin supaya kelas tidak terlalu jenuh karena sebelumnya Pak Acep marah dan sedikit kesal. Cara Pak Acep mengajar itu sebenarnya sangat mudah dipahami karena menerangkan materinya tidak terlalu detail dan menerangkan hal yang pentingnya saja sehingga mudah diingat, saya dan teman sekelas pun sepertinya  mulai menyukai pelajaran mulok multimedia karena materinya mudah dipahami dan guru nya asik dan suka melucu juga.

KESAN - KESAN : - Pak kalo ngajar itu jangan sering marah marah nanti siswa juga bisa ga suka sama pelajaran multimedianya.

Sabtu, 24 Agustus 2013

FCC

http://bluearea-persib.blogspot.com/2012/07/apakah-itu-flower-city-casual.html

Sebelum kita membahas apa itu FCC, ada baiknya untuk dulu apa itu Casuals Culture, tentu saja karena menggunakan bahasa inggris, Casuals Culture pertama kali berkembang di Inggris, tepatnya Liverpool akhir tahun 70-an dan awal 80-an, dimana konflik antar pendukung klub di Inggris tengah panas-panasnya, sehingga akses para pendukung sepakbola untuk memasuki bar dan melakukan perjalanan tandang semakin sulit akibat larangan dari otoritas setempat dan ancaman pendukung klub lawan. Sejak itu, produk sandang dari desainer terkemuka di Inggris seperti Burberry, Stone Island, CP Company, Sergio Tacchini, Fila, Trainers Adidas Originals, Ellesse, Scott & Lyle menjadi pilihan alternatif pengganti jersey dan merchandise klub yang dinilai terlalu berbahaya untuk dipakai, disamping itu infiltrasi ke kelompok saingan pun semakin mudah dilakukan.

Lalu bagaimana dengan kultur skinhead dan hooliganisme? Banyak orang yang mengidentikan casuals dengan kultur skinhead dan hooligan, kultur casuals memiliki keterkaitan dengan kultur skinhead, karena pada awal kemunculannya kultur ini kaum skinhead lah yang memilih berpakaian tanpa warna klub di stadion, mereka memilih menggunakan boots martens dan perry kebanggaan mereka di tribun namun pada saat itu otoritas disana mengidentikan skinhead dengan perusuh sepakbola. hingga ada penitipan paksa boots sebelum masuk ke tribun stadion, karena tahu sendiri akibatnya jika sol Martens mendarat di wajah. Sehingga penampilan sporty ala petenis kondang saat itu menjadi pilihan cerdas, casuals sendiri menyatukan banyak subkultur dalam kultur sepakbola. Berbagai genre musik dari post punk, oi!, new wave, hardcore hingga britpop identik dengan kultur Casuals.

Lalu apa hubungannya dengan hooliganisme? Hmmmà sebenarnya saya menghindari term hooligan dalam bahasan ini, karena hooligan adalah term yang diciptakan media untuk perilaku yang buruk dalam kultur pendukung sepakbola seperti perkelahian antar pendukung sepakbola, pengrusakan fasilitas umum, dll., beberapa Casuals memang mempraktikan hooliganisme dalam aktivitasnya, oleh karena itu saya sangat menghindari term hooligan di ranah ini.

Kultur Casuals masuk ke ranah budaya pop saat sineas tertarik untuk mengangkatnya pada layar lebar, sebt saja The Firm 1984, I.D, Cass, The Rise of Footsoldier, Green Street I & II, Football Factory, Awaydays dan The Firm 2009 dan beberapa judul lainnya. Diantara banyak film tersebut, menurut saya The Firm dan Awaydays lah yang paling mendekati kultur Casuals, dimana unsur
fesyen sebagai bagian dari kultur Casuals sangat ditonjolkan oleh sang pembuat film.

FCC as local casuals

Lalu apa itu FCC? FCC merupakan kependekan dari Flowers City Casuals, yang maknanya kurang lebih sebagai Casuals dari Kota Bandung, berawal dari kesukaan akan budaya inggris, hoby bergaya dengan brand eropa dan kecintaan pada Persib Bandung, sekitar tahun 2005 berdirilah FCC. Berbeda dengan klub penggemar Persib Bandung lainnya, FCC tidak memiliki struktur organisasi dan keanggotaan formal.

Dimanakah FCC bisa ditemui? Oya, kami selalu berada di sisi utara Stadion Siliwangi di setiap laga tandang, jangan berharap mendapatkan koreografi yang indah disini, apa lagi berharap bisa bernyanyi bersama chants ôUwa û Eweö atau ô******Bonek sama Sajaö, karena kami tidak seperti itu, kami berbeda dengan pendukung militan dari bagian timur pulau jawa tersebut, tak ada panglima, tak ada koreografi, mungkin hanya flare terbakar, chants dan caci-maki terhadap klub lawan yang akan didapatkan disini.

Diluar tribun, kami bisa ditemui pada waktu-waktu tertentu, seringkali pada siaran langsung laga tandang Persib Bandung ataupun bigmatch Premier League berlangsung, di kedai seputaran kota Bandung yang menjual bir dengan harga yang tidak terlalu mahal dan menyiarkan tayangan langsung sepakbola, selain PERSIB, obrolan tentang items casuals pun menjadi perbincangan seru diantara kami, info tentang lapak Trainers Adidas Originals ataupun secondhand jaket Sergio Tacchini, Fila, Slazenger menjadi tema penting. beberapa diantara kami adalah penganut taat paham Straight Edge, dan kami respek dengan itu semua.

Ada hal-hal yang sangat dibenci oleh FCC di tribun Stadion, memakai jersey atau merchandise klub yang tidak ada hubungannya dengan pertandingan saat itu, apalagi ditambah dengan tidak menggunakan alas kaki (karena kami menganggap setiap laga Persib adalah seremonial suci yang harus sangat dihargai, bayangkan saja kamu datang ke pesta perkawinan tanpa alas kaki) dan menyanyikan lagu persahabatan antara dua grup pendukung sepakbola dengan embel-embel ôSatu Hatiö WTF! Dan satu lagi, membawa gitar ukulele di tribun, Tai Suci! (maksudnya Holyshit) Apa lagi itu! siapapun bisa menjadi bagian FCC, tentunya mencintai Persib dan kultur Casuals. Bersikap Casuals dan mari bergabung bersama kami disini, di tribun utara!